Sakit

Dingin menusuk 

Malam ini bulan meredup ,  Melengkapi 

Aku bersandar pada sunyi 

Mulai berbisik pada sang abadi

Melepas resah pasrah 

Lalu Sampai pada namamu 

Aku siapa ? 

Berani menyelipkan namamu dalam do’a ku
kamu , seperti sakit yang aku nikmati 

Sakit itu , aku pinta 

Sakit itu , mecintai mu 

Sakit itu , kamu sakit 

Aku tau ,

Mencintai mu itu sakit

tapi ,untuk berhenti pun sulit

N.a

Iklan

sakit

Aku berada dalam peperangan 

Di antara kamu dan tenang 

Ini masih pagi 

Tapi penyakit  meradang 

Mengalir mulai menggerigoti jantung

Menguasai fikiran , memenjarakan 

Seperti zainudin yang hanyut dalam kesakitan panjang

Ilusi mu datang

Sekedar menyerang 

Aku diam , ingin tenang 

Sudahi saja , sudahi

Tapi Bahkan kesakitan ini tempat aku ingin kembali pulang


Afifah

170903

Aku sakit

‚Äč

Sesesak ini, persis 

Aku beku 

Dengan dada terhimpit 

Ini sudah di luar batas 

Aku kurang ajar ,tak waras 

Sudah lama bukan ? 

Dan ini sudah akut 

Pecahkan saja !

Pecahkan saja ! 

Selamatkan satu jiwa 

Wahai jiwa sempurna mari bersua 

Maaf , aku memaksa
                                  
                                          2017.09.02
                                             Jakarta 

    

Sesering apapun kau berusaha mencoba mencari hati lain yang mampu kau singgahi , sesering itu pula kau gagal dan akhirnya kembali 

Kau marah , ingin  segera berpisah 

Tapi kau tak ingin sudah 

Kau berusaha membantah 

Tapi kau ingin kalah 

Jika ada dua pilihan kau tetap memilih untuk  diam tak ingin berpetualang 

Sebab Waras mu tak berfungsi 

kegilaan mu mengundangnya  lagi 

Mengundang Senyum dan mata teduhnya yang hanya bisa kau nikmati tanpa bisa kau miliki

Atau mungkin 

bisa saja membuatmu mati tanpa pernah ia sadari

Bahwa 

Dialah yang membuat mu begini 

Nur Afifah 

Dinihari

Kapan kau pulang

Aku berada di ujung ketidak warasan ,dengan namamu di sedalam dalamnya perasaan 

Dengan semerdu merdunya alunan suaramu yang terekam 

pun membisingkan 

Rindu ini masih mejelma racun dalam pedang ,Yang kapan saja bisa menghujam dan mematikan 

Kapan kau membawa penawarnya?

Jari jari yang bersedia untuk ku genggam di tangan

Atau lingkaran tangan yang  menenangkan 

Kapan kau pulang ?

Sebab aku berada di ujung kematian
Ternyata aku salah tak semestinya kau ku usir barang semalam
Nur Afifah 

Berhentilah

Jika kau mulai penat 

Berhentilah berkelana 

Bukankah telah kau temui Penawarnya
Aku tidak benar benar mengusir mu, malam itu lebih buruk .

Mengusir mu adalah alasan untuk memastikan kau benar benar tersesat dalam dunia ku

Menetaplah 

Jika bagi mu aku sebaik baiknya penawar rindu

Jika bagi mu aku adalah tempat senyaman nyamannya  berteduh 

Sebab , kamu bagiku adalah seperti itu

Nur Afifah 

tentang hati

Sungguh hilang warasku 

Berkat kisah semu di malam lalu 

Aku ada dia antara nyata dan ilusi 

berlari mengejar bayang mu yang pecah bersama terbukanya mata 

Menjatuhkan diri dalam jurang tempat dimana desau suara mu hilang bersama sautan adzan 

Tak bisakah sebentar saja kau menoleh  

Sebab ingin kulukis garis utuh wajah mu dalam ingatan ku

Malam ini jangan singgah lagi 

Jika garis wajah mu masih semu 

Malam ini jangan singgah lagi 

jika singgah mu menyisakan dekapan hangat  yang masih saja menyesakkan 

Jangan pernah 

Biar rasa tak semakin nyata
Nur Afifah