Sesering apapun kau berusaha mencoba mencari hati lain yang mampu kau singgahi , sesering itu pula kau gagal dan akhirnya kembali 

Kau marah , ingin  segera berpisah 

Tapi kau tak ingin sudah 

Kau berusaha membantah 

Tapi kau ingin kalah 

Jika ada dua pilihan kau tetap memilih untuk  diam tak ingin berpetualang 

Sebab Waras mu tak berfungsi 

kegilaan mu mengundangnya  lagi 

Mengundang Senyum dan mata teduhnya yang hanya bisa kau nikmati tanpa bisa kau miliki

Atau mungkin 

bisa saja membuatmu mati tanpa pernah ia sadari

Bahwa 

Dialah yang membuat mu begini 

Nur Afifah 

Dinihari

Kapan kau pulang

Aku berada di ujung ketidak warasan ,dengan namamu di sedalam dalamnya perasaan 

Dengan semerdu merdunya alunan suaramu yang terekam 

pun membisingkan 

Rindu ini masih mejelma racun dalam pedang ,Yang kapan saja bisa menghujam dan mematikan 

Kapan kau membawa penawarnya?

Jari jari yang bersedia untuk ku genggam di tangan

Atau lingkaran tangan yang  menenangkan 

Kapan kau pulang ?

Sebab aku berada di ujung kematian
Ternyata aku salah tak semestinya kau ku usir barang semalam
Nur Afifah 

Berhentilah

Jika kau mulai penat 

Berhentilah berkelana 

Bukankah telah kau temui Penawarnya
Aku tidak benar benar mengusir mu, malam itu lebih buruk .

Mengusir mu adalah alasan untuk memastikan kau benar benar tersesat dalam dunia ku

Menetaplah 

Jika bagi mu aku sebaik baiknya penawar rindu

Jika bagi mu aku adalah tempat senyaman nyamannya  berteduh 

Sebab , kamu bagiku adalah seperti itu

Nur Afifah 

tentang hati

Sungguh hilang warasku 

Berkat kisah semu di malam lalu 

Aku ada dia antara nyata dan ilusi 

berlari mengejar bayang mu yang pecah bersama terbukanya mata 

Menjatuhkan diri dalam jurang tempat dimana desau suara mu hilang bersama sautan adzan 

Tak bisakah sebentar saja kau menoleh  

Sebab ingin kulukis garis utuh wajah mu dalam ingatan ku

Malam ini jangan singgah lagi 

Jika garis wajah mu masih semu 

Malam ini jangan singgah lagi 

jika singgah mu menyisakan dekapan hangat  yang masih saja menyesakkan 

Jangan pernah 

Biar rasa tak semakin nyata
Nur Afifah 

Tentang hati

Mencintaimu sama seperti ketika 

“Memutuskan ” memulai menjaga ayat ayat nya

Memulainya berarti kau tidak bisa mengakhirinya begitu saja 

Memulainya sama saja  kau menuju bahagia 

Mengakhirinya sama saja kau memilih untuk menderita 

Tapi tidak !

Mencintaimu bukan keputusan ku 

Ia datang begitu saja 

tumbuh bersarang  

Tanpa jawaban 

Tanpa tujuan kebahagian

Nur Afifah 

ingin ku

Aku ingin  engkau menjadikan senyumku tinta dalam penamu 

Mataku sebagai benihnya 

Sebab kelak kau akan memintaku berdiam di situ 

Dan kau berlutut memungut huruf huruf yang jatuh dari mataku 

Pada saat itu 

Barang kali kau akan mengerti betapa aku ingin tersesat dalam setiap sajak mu .

Pada saat itu 

Barangkali kau mulai menyadari sajak mu tak akan hidup tanpa aku 

                                      Rengasdengklok 

                                       Nur afifah  

     

Entah lah mungkin bermula pada sajak sajak mu  Saat dimana sajak sajak mu tak lagi sekedar bacaan di kala luangnya waktu , melainkan rangkaian huruf indah yang membuat ku candu.  Sebab saat membacanya ,hati tak lagi sama 
                                      

 4 mei 2017 

Nur Afifah